Total Tayangan Laman

Jesus Jalan Keselamatan

Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku

Lam_Mar Sihaholongan

Lam_Mar Sihaholongan

Kamis, 08 Maret 2012

Antara Martin Luther, Zwingli, J. Calvin



A  PANDANGAN TERHADAP PERJAMUAN KUDUS
I.                    PENDAHULUAN
Salah satu unsur terpenting dari perayaan-perayaan Kristen adalah Sakramen Perjamuan Kudus. Perjamuan Kudus merupakan suatu ibadah Kristen yang penting yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri (1 Kor. 11:24-25; Mat. 26:26-27). Di dalam sejarah Gereja telah banyak diperdebatkan tentang Sakramen Perjamuan Kudus. Banyak persoalan yang timbul yang menjadi pertanyaan tentang Sakramen Perjamuan Kudus itu sendiri, seperti: bagaimana mengartikan perkataan Tuhan Yesus “Inilah tubuhKu” dan “Inilah darahKu”, dengan cara bagaimanakah Kristus hadir, apakah Kristus hadir secara rill, juga Apakah roti dan anggur berubah atau tidak? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang sering muncul.
Sejalan dengan perkembangan zaman yang semakin maju, maka manusiapun berusaha semakin jauh untuk menelusuri secara mendalam bagaimana sebenarnya Sakramen Perjamuan Kudus. Oleh karena itu timbullah berbagai ajaran dari berbagai aliran yang membahas secara mendalam bagaimanakah Perjamuan Kudus itu sebenarnya, apakah yang ada dalam (isi) Perjamuan Kudus tersebut.


II. TINJAUAN HISTORIS
2.1. Latar Belakang Munculnya Perjamuan Kudus
Perjamuan dalam tradisi Israel kuno dilakukan untuk menghayati perbuatan Allah yang melepaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir (Ul. 16:1 dsb.).[1] Perjamuan itu mereka namakan Pesakh (Paskah) artinya “berlalu” atau “melewati”. Dalam Kel.12:13, Tuhan berjanji bahwa hukuman-Nya akan berlalu pada pintu-pintu yang diberi tanda dengan darah anak domba. Dalam tradsisi PB, Perjamuan berasal dari Perjamuan yang diadakan Tuhan Yesus beserta murid-muridNya pada malam Ia ditangkap untuk disalibkan (1 Kor. 11:23 dyb, Mrk, 14:22; Mat 26:26; Luk 22:14). Ketika Yesus mengambil roti memecahkannya serta memberikannya kepada murid-murid-Nya, sambil berkata: “Inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24). Ia berkata; “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimateraikan oleh darah-Ku, perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1 Kor. 11:25). Oleh karena itu Perjamuan Kudus menghadapkan kepada kematian Yesus dan kebangkitan-Nya yang telah nyata, bahwa kematian-Nya itu telah menerbitkan keselamatan bagi yang mempercayainya.[2]
2.2. Pandangan Gereja Katolik
Gereja Katolik mengatakan bahwa roti dan angur telah berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (transsubstansiasi) pada saat ditahbiskan (konsekrasi) dalam pelaksanaan Perjamuan Kudus. Setiap Perjamuan Kudus dilakukan diyakini bahwa setiap kali Yesus mengorbankan ulang tubuh dan darah-Nya untuk keselamatan manusia berdosa. Pada konsili ke-4 di Lateran (1215), ajaran transsubstansiasi disahkan menjadi dogma gereja. Ajaran ini kemudian dikembangkan oleh Thomas Aquino (1274). Di konsili Terente (1545-1563) diteguhkan dan dikuatkan ajaran transsubstansiasi sebagai jawaban gereja Roma Katolik atas Reformasi.[3]
2.3. Pandangan Zwingli
Zwingli memiliki pandangan terhadap  Perjamuan Kudus bahwa itu adalah  sebagai tanda atau materi tentang pengorbanan Kristus yang menjadi keselamatan bagi manusia. Perkataan Yesus, “Inilah tubuhKu” menurut Zwingli hanyalah berarti: dengan ini dikiaskan tubuh-Ku. Zwingli tidak mengakui bahwa Kristuslah yang sungguh berfirman dan bertindak dalam berlangsungnya sakramen; ia menganggap sakramen hanya suatu perbuatan yang bersifat lambang, yang dilakukan oleh orang beriman. Dengan demikian fungsi Perjamuan Kudus adalah merupakan bukti bahwa seseorang telah menerima penghapusan dosa dan keselamatan.[4]
2.4.  Pandangan Calvin
Calvin menolak bahwa tubuh Kristus turun dari Sorga untuk memasuki roti dan anggur Perjamuan Kudus, apalagi untuk hadir dimana saja Perjamuan Kudus. Menurut Calvin, tubuh Kristus setelah naik ke Sorga, hadir di sebelah kanan Allah Bapa, sebagai jaminan kebangkitan tubuh manusia pada akhir zaman. Jadi untuk dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus, manusia harus diangkat ke Sorga. Namun manusia bukan berarti diangkat secara jasmaniah tetapi secara rohaniah karena hatinya diarahkan ke atas (sursum corda). Dengan kata lain ia menolak kehadiran jasmani dalam Perjamuan Kudus. Kristus sungguh-sungguh hadir pada waktu Perjamuan Kudus dirayakan, dengan cara yang cocok bagi Tuhan yang telah dimuliakan yaitu dalam Roh Kudus yang tidak terikat pada roti dan anggur. Dengan demikian Calvin menolak ajaran Gereja Roma Katolik tentang trans-substansiasi dan menolak ajaran Lutheran yaitu mengenai kon-substansiasi.[5]
Bagi Calvin, perjamuan kudus adalah tanda tetapi bukan tanda kosong sebab tanda ini diberikan Allah melalui AnakNya supaya orang percaya melalui roti dan anggur betul-betul dipersatukan dengan tubuh dan darah Kristus. Karena kelemahan manusia tanda ini mutlak perlu sebagai tambahan kepada firman yang diberitakan. Sebab persatuan dengan Kristus yang dikaruniakan kepada orang percaya ini hanya dapat dimengerti kalau diperlihatkan dalam upacara makan roti dan minum anggur.


2.4. Pandangan Marthin Luther
Ajaran Luther tentang Perjamuan Kudus dia sebut Kon-substansiasi (kon = sama-sama): roti dan anggur itu tidak berubah menjadi tubuh dan darah Kristus (trans-substansiasi). Tetapi tubuh dan darah Kristus mendiami roti dan anggur itu sehingga ada 2 zat atau substansi yang sama-sama terkandung dalam roti dan anggur itu.[6] Gereja Lutheran memahami bahwa di dalam Perjamuan Kudus Kristus sungguh-sungguh hadir tanpa merubah substansi roti dan anggur namun Dia hadir ketika Perjamuan Kudus dilakukan. Makna kehadiran Kristus diterima, ketika yang menerima Perjamuan Kudus percaya tentang firman Tuhan yang diberitakan melalui Perjamuan Kudus dan percaya kepada penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus.

B.   PANDANGAN TERHADAP BAPTISAN
I. Pendahuluan
Sebagai perwujudan kemurahan Allah bagi manusia, baptisan merupakan bagian dari ajaran Kristen yang sangat penting dalam memahami penerimaan keampunan dosa, kelahiran kedua kali dan memperoleh kebahagiaan kekal. Namun dalam prakteknya, masih banyak orang Kristen yang tidak mengerti apa yang sesungguhnya tujuan melaksanakan baptisan itu dengan membawa anak-anak mereka untuk menerima baptisan tersebut.
Pengertian “βαπτώ” yang sering dipakai dalam kekristenan sekarang ini ialah berarti membaptiskan. Sedangkan bentuk infinitip dari kata “βαπτω” ialah kata “βαπτιζειν” yang berarti kata yang menyuruh untuk membaptiskan (baptislah). Kata “βαπτιζειν” ini menandakan tindakan luar yang kemudian menjadi syarat untuk usaha dari baptisan yang didasarkan pada Kristus.[7] Demikian juga kata “βαπτιζω” (future orang pertama tunggal, aktif) sering dipakai dalam kultur pemandian Yahudi (bnd. Mrk. 7:41 dan Luk. 11:38).[8] Sedangkan Yesus memakai kata “βαπτιζοντες” (Nominatif jamak maskulin, partisip present aktip) untuk menyuruh murid-muridNya membaptis di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus (bnd. Mat. 28:19).
Kata “βαπτισμα” ini bukan hanya sekedar pencelupan ke dalam air belaka, namun melalui perantaraan air tersebut maka makna kata baptisan itu telah berubah, misalnya dalam Roma 6:4 kata dibaptiskan telah berubah makna menjadi dikuburkandan dibangkitkan bersama Kristus. Sedangkan dari Efesus 4:5, kata “βαπτισμα” maknanya menjadi untuk membentuk arti kata yang menunjuk kepada satu kesatuan jemaat. Arti kata “βαπτισμα” juga bukan hanya menunjuk kepada tindakan/reaksi dalam bentuk dari luar tetapi mencakup tindakan dalam bentuk dari dalam. Tindakan dalam bentuk dari luar ialah dengan adanya penyucian melalui pembaptisan dengan air, sedangkan tindakan dalam bentuk dari dalam ialah dengan adanya pertobatan dan penyucian hati.
II. Beberapa Pandangan Tentang Baptisan
1.       Dasar dan tujuan Baptisan Menurut Luther
Menurut Luther, baptisan bukanlah hasil pikiran manusia, melainkan wahyu dan pemberian Allah.[9] Baptisan tidak bisa dianggap remeh. Meskipun baptisan merupakan hal lahiriah, namun yang jelas firman dan perintah Allah menetapkannya dan meneguhkannya. Lebih-lebih baptisan itu dilakukan di dalam namaNya. Luther mendirikan pendapatnya berdasarkan perintah Yesus (Mat. 28:19-20).
Dibaptis dalam nama Allah bukanlah dibaptis oleh manusia, melainkan oleh Allah sendiri. Karena itu, walaupun manusia yang melakukannya, baptisan itu benar-benar perbuatan Allah sekaligus.[10] Artinya, jika pun seorang imam atau pendeta melayani sakramen baptisan kudus, sebenarnya Allah sendirilah pelaku utama dalam sakramen tersebut, bukan si pendeta.
Luther berpendapat bahwa baptisan bukanlah air biasa saja, melainkan air yang terkandung dalam firman dan perintah Allah serta dikuduskan oleh-Nya.[11] Dengan demikian baptisan tidak lain daripada Allah sendiri; bukan karena air itu lebih istimewa dari segala jenis air yang lain, tetapi karena firman dan perintah Allah yang menyertainya. Jadi, baptisan berbeda dengan air yang lain, bukan karena apa adanya, melainkan karena sesuatu yang lebih mulia menyertainya. Allah sendiri menaruh kemuliaanNya atasNya dan mengalirkan kuasa kuasa dan kekuatan ke dalamnya. Baptisan adalah suatu firman surgawi yang kudus, pujian apapun tidak cukup untuk memuliakannya, karena seluruh kuasa dan kemampuan Allah ada di dalamnya.[12] Oleh sebab itu, firman dan air jangan sekali-kali dibiarkan terpisah satu sama lain dengan cara apapun. Sebab jika terpisah, maka air tersebut tidak ada bedanya dengan air yang digunakan pelayan memasak, dan hanya dapat disebut sebagai baptisan pelayan kamar mandi. Tetapi, apabila disertai dengan firman Allah, maka baptisan itu adalah suatu sakramen dan disebut Baptisan Kristus. Dengan demikian yang pertama ditekankan ialah hakikat dan pentingnya sakramen kudus ini (Mat. 16:16).
Inilah dasar biblis yang dikemukakan oleh Luther dalam mengkaji tujuan dan dampak baptisan. Dia meringkaskan bahwa kuasa, pengaruh, manfaat buah dan tujuan baptisan adalah agar orang-orang memiliki kesukaan kekal. Kesukaan kekal artinya dibebaskan dari dosa, maut dan iblis, masuk ke dalam kerajaan Kristus dan hidup bersama Dia selama-lamanya.[13] Sehingga Luther mengatakan bahwa air yang digunakan dalam baptisan merupakan air ilahi yang memperoleh kuasa menjadi “kelahiran kembali”, seperti yang disebutkan Paulus dalam Titus 3:5. Dengan demikian, siapa saja yang menolak baptisan, itu berarti dia menolak kesukaan kekal.[14] Oleh karena manfaat baptisan disebutkan dan dijanjikan dalam kata-kata yang menyertai air itu, maka manfaat itu tidak dapat kita terima bila kita tidak mempercayainya.[15]
Pemberian-pemberian dalam baptisan begitu banyak dan tak ternilai harganya, antara lain kemenangan atas maut dan iblis, pengampunan dosa, kemurahan Allah, Kristus seutuhnya dan Roh Kudus dengan pemberian-pemberian-Nya.[16] Seseorang yang dibaptis menerima janji akan berbahagia selama-lamanya. Itulah dampak yang dihasilkan oleh perpaduan air dan Firman dalam baptisan, yakni bahwa tubuh dan jiwa memperoleh kesukaan: Firman yang menjadi pegangan jiwa sekaligus akan memberi kesukaan bagi tubuh.[17]
Kemudian Luther menghubungkan asumsinya dengan Roma 6, yang berbicara seputar topik kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Menurut Luther, baptisan sebagai sakramen yang kudus telah mengikutsertakan kita di dalam kematian dan kebangkitan Yesus.[18]
Jadi, menurut Luther bahwa Allah sendirilah yang menjadi dasar dan pelaksana utama dalam Baptisan, bukan manusia. Oleh karena itu, tidak menjadi persoalan tentang siapa orang yang dibaptis, apakah orang dewasa atau anak-anak; sebab jika baptisan tersebut dilaksanakan di dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, maka sakramen tersebut adalah sah.
2.      Baptisan Menurut Calvin

Calvin melihat baptisan sebagai tanda pengampunan dosa dan kelahiran baru. Pengampunan ini diberikan Allah kepada manusia sebelum ia lahir, sehingga tidak dapat diikat pada pelayanan baptisan. Lebih lanjut baptisan menurut Calvin menandai bahwa orang percaya ikut serta dalam kematian dan kebangkitan Kristus, dan bahwa orang percaya menjadi satu dengan Kristus. Konsekuensi dari ikatan baptisan dengan keanggotaan gereja bagi Calvin adalah bahwa pelayanan baptisan harus terjadi di dalam kebaktian jemaat, oleh pejabat yang ditentukan oleh gereja, yaitu Pendeta.

3.      Baptisan Menurut Zwingli
 Baptisan Ulang dan Baptisan Anak. Di dalamnya ia membela dilakukannya baptisan anak, baginya baptisan anak merupakan tanda perjanjian, dan perjanjian meliputi seluruh keluarga bukan hanya oknum-oknum tertentu. Namun, meskipun ia mempertahankan baptisan anak, Zwingli (berlainan dengan Luther) menolak kepercayan Katolik Roma, bahwa baptisan, juga baptisan anak memberikan kelahiran baru dan pengampunan dosa. Ia berpendapat bahwa baptisan merupakan tanda luar dari iman kita. Lebih lanjut Zwingli berpandangan bahwa sakramen (baptisan) adalah tindakan simbolis, yang menunjuk kepada keselamatan yang diberikan Kristus dan yang dipakai oleh orang-orang percaya untuk memperingati dan untuk menyatakan iman mereka.

C.   PANDANGAN TERHADAP KRISTOLOGI
·         Pandangan Calvin dan Luther terhadap Kristologi
Calvin menekankan bahwa Kristus sebagai gambar dari Allah yang tidak bisa kelihatan dan sebagai sumber segala yang baik (fons omnium bonorum) untuk pendosa. Selain itu juga, dia menjelaskan munus triplex tetang tiga jabatan Kristus, yaitu Nabi, Raja, dan Imam. Menurut saya Calvin terlalu menekankan jabatan Kristus sebagai Nabi. Padahal jabatan sebagai Raja dan Imam juga tidak kalah penting. Calvin melihat bahwa tanpa jabatan kenabian Kristus, Kristus sebagai sumber segala sesuatu yang baik tidak akan menguntungkan manusia. Apakah hanya sebagai Nabi? Bukankah Kristus sebagai gambar Allah yang tidak kelihatan itu adalah sumber segala sesuatu yang baik? Sebagai sumber segala sesuatu yang baik pasti menghasilkan hasil yang baik pula. Kristus, sebagai objek iman, yang menghasilkan segala kebaikan pastilah menguntungkan bagi manusia yang mengimaninya.

Luther menjelaskan bahwa Yesus Kristus sebagai pusat. Pandangan Soteriologi Luther yang menggunakan konsep comunicatio idiomatum berakibat terhadap Perjamuan Kudus. Luther menekankan kehadiran Allah dalam Perjamuan Kudus. Sehingga roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus yang nyata. Saya kurang setuju dengan pendapat Luther ini. Bukankah Allah itu ada dimana-mana. Lagipula, konsep bahwa roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus yang nyata akan membawa jemaat kepada pemikiran yang berlebihan. Sehingga tidak jarang jemaat membawa roti dan anggur karena itu dianggap menjadi tubuh dan darah Kristus.

Calvin juga melihat bahwa kemanusiaan Yesus adalah sumber dari pengangkatan umat manusia sebagai anak-anak Allah oleh anugerah Allah. Hal inilah yang menjadi salah satu pertentangan Calvin terhadap Luther selain tentang kehadiran Allah dalam Perjamuan. Saya tidak setuju dengan pandangan Calvin yang menekankan kesatuan antara anak Allah dan anak manusia dan Luther menekankan kesatuan hakikat manusia dan ilahi dari Yesus. Sesuai dengan konsili Chalcedon bahwa Kristus dikenal dengan dua hakikat, tidak bercampur, tidak berubah, tidak terbagi, dan tidak terpisah. Saya memiliki komentar tentang keilahian dan kemanusiaan Yesus Kristus. menurut saya, apapun itu hakikat Yesus itu, baik manusia ataupun Allah, Dia tetap pewahyu Allah (reaveales of God) karena melalui Yesus Kristuslah Allah itu dinyatakan.

D.   PANDANGAN TERHADAP KESELAMATAN
1.      Keselamatan Menurut Calvin
Ide-ide Calvin, seperti juga ide-ide Luther, pada dasarnya menghidupkan kembali Augustinianisme. Prinsip fundamental yang mengisi setiap bab Institutes-nya adalah pandangannya tentang Allah sebagai Raja yang berdaulat atas segala ciptaan. Kedaulatan Allah bukanlah suatu ide yang abstrak dan spekulatif, tetapi merupakan suatu prinsip yang dinamis, suatu realitas yang menginformasikan kehidupan yang konkret, yang membentuk diskusi Calvin tentang setiap doktrin. Calvin berkeinginan bahwa pengenalan orang-orang percaya akan Allah "lebih berisi pengalaman hidup daripada spekulasi yang melayang tinggi dan sia-sia" (Institutes 1. 10. 2).
Dari semua atribut Allah, yang paling penting untuk dialami secara pribadi adalah providensi-Nya karena atribut ini paling konkret menunjukkan kedaulatan-Nya. Providensi Allah tak dapat dipisahkan dari karya-Nya sebagai Pencipta. Tetapi jika Allah hanya sekadar Pencipta, Ia tidak akan berhubungan dengan ciptaan itu, sama seperti seorang pembuat jam yang tidak lagi terlibat dengan beroperasinya sebuah jam setelah ia membuatnya. Sebab itu, Calvin memandang providensi pemeliharaan Allah meliputi seluruh tatanan ciptaan. "Ia menopang, memberi makan, dan memerhatikan segala sesuatu yang telah dijadikan-Nya, bahkan burung pipit yang tak berarti sekalipun" (Institutes 1. 16. 1). Rencana rahasia Allah mengatur segala eksistensi, dari benda-benda yang tak berjiwa sampai kehidupan binatang dan juga manusia. Kehendak Allah yang tak terselidiki akan mengarahkan segala sesuatu. Implikasi-implikasi pandangan tentang Allah ini jelas sangat luas. Calvin bersikeras bahwa pandangannya tidak memimpin ke dalam fatalisme atau menolak tanggung jawab manusia. Berulang-ulang, ia menegaskan bahwa perhatian utamanya adalah menerangkan apa yang diajarkan oleh Alkitab tentang pokok yang sukar ini. Allah tidak berlaku seperti tuan tanah yang tidak ada di tempat. Ia secara akrab melibatkan diri dengan ciptaan. Calvin mengutip beberapa nas dari Perjanjian Lama maupun Baru untuk mendukung kendali Allah yang menyeluruh atas apa yang telah dijadikan-Nya. Sementara menegaskan providensi Allah, ia menolak gagasan tentang nasib, kebetulan, dan keberuntungan serta menganggapnya sebagai "temuan-temuan kafir".
Sebab itu, sejak awal Calvin membicarakan doktrin tentang Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara, bukan sebagai Penyebab pertama atau Penggerak yang tidak digerakkan, yang abstrak dan impersonal. Termasuk dalam gagasan tentang Allah sebagai Pencipta adalah bahwa Allah berpribadi dan bahwa Ia berkehendak dan mengatur apa yang telah dijadikan-Nya. Tidak seperti pandangan Aquinas, ide Calvin tentang Allah yang berpribadi tidak ditambahkan setelah ia terlebih dahulu membuktikan eksistensi-Nya (seperti yang dilakukan oleh Aquinas ketika mengadaptasi bukti-bukti rasional Aristoteles tentang suatu Penggerak yang tidak digerakkan atau Penyebab pertama). Calvin menolak dan menganggap tidak alkitabiah segala ide tentang Allah sebagai sekadar Penggerak pertama yang mengawali "suatu gerakan universal tertentu, menggerakkan seluruh mesin dunia dan masing-masing bagiannya" (Institutes 1. 16. 1). Allah itu berpribadi dan secara aktif berpartisipasi dalam ciptaan.
Dengan demikian, Calvin membicarakan providensi Allah tidak sekadar untuk isi intelektual dari providensi tersebut, tetapi untuk nilai religius praktis yang luar biasa besarnya bagi orang beriman. Kepercayaan pada providensi Allah memberi penghiburan besar kepada orang beriman bahwa segala kehidupan berada di bawah kendali Bapa surgawi yang penuh kasih. Pada saat yang sama, kepercayaan ini memberi suatu rasa takjub dan takut yang sepantasnya terhadap Allah, karena dalam rencana-Nya, Allah juga menyatakan kepada orang-orang Kristen tanggung jawab mereka untuk menemukan dan menggenapi kehendak-Nya. Berusaha mempertemukan kedaulatan Allah dengan tanggung jawab manusia, Calvin menegaskan penundukkan pada kehendak Allah dan mengakui serta menerima bagaimana Allah memakai keadaan-keadaan sekitar untuk mengajar kita taat pada firman-Nya.
Hati orang Kristen, karena ia telah diyakinkan bahwa segala sesuatu terjadi oleh rencana Allah, dan bahwa tidak ada suatu apa pun yang terjadi secara kebetulan, akan selalu melihat kepada-Nya sebagai Penyebab utama dari segala hal, tetapi juga akan memberi perhatian pada penyebab-penyebab kedua di tempat mereka yang sepantasnya .... Sejauh menyangkut manusia, apakah ia baik atau jahat, hati orang Kristen akan mengetahui bahwa segala rencana, kehendak, usaha, dan kemampuan manusia berada dalam tangan Allah; bahwa itu berada dalam pilihan-Nya untuk mengarahkannya sesuai dengan kehendak-Nya atau mengekangnya kapan pun Ia menghendakinya (Institutes 1. 17. 6).
Orang-orang Kristen tidak hanya mengerti dan mengalami providensi Allah melalui iman, tetapi juga menyerahkan kehendak mereka pada kedaulatan Allah untuk menaati perintah-perintah-Nya. Kaum Calvinis dilegakan dari kecemasan yang menulahi orang-orang tak percaya yang tidak menyadari maksud dan rencana Allah yang sedang dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun menjalankan tanggung jawab mereka sendiri untuk mengatur kehidupan mereka sehari-hari menurut prinsip-prinsip alkitabiah, kaum Calvinis mengakui dan menerima dengan iman yang sederhana bahwa apa pun yang terjadi berada di bawah pemeliharaan providensia Allah.[19]

2.      Keselamatan Menurut Luther
Pandangan Luther tentang iman sebenamya bertolak dari pengalaman pribadinya bahwa kebenaran/keadilan Allah tidak merupakan suatu keadilan yang mengadili dan menghukum, melainkan yang membuat manusia benar (misalnya dalam Rm 1:17). Selanjutnya, seturut Rm 3:28 (dan teks lainnya: Rm 5:1; Gal 2:16; 3:11; 3:24) Luther menekankan kembali bahwa pembenaran itu dihadiahkan oleh Allah kepada manusia. Kenyataan ini diungkapkan dengan formula: kita diselamatkan oleh iman (sola fide), bukan oleh perbuatan kita. Dengan formula ini Luther mau menonjolkan Allah sebagai pemberi tunggal yang membenarkan secara gratis, tanpa menuntut pahala manusia terlebih dahulu. Allah bertindak aktif di dalam pembenaran, sedangkan manusia tinggal pasif, karena manusia tidak bisa dibenarkan oleh perbuatannya sendiri.
Luther mengkritik teologi tentang iman. Iman dan perbuatan telah dicampuradukkan, akibatnya Injil yang benar (pembenaran rahmat Allah dalam Kristus) dikhianati. Oleh sebab itu, Luther menuntut supaya formula Fides caritate formata diganti dengan Sola fide sebab kalau iman baru membenarkan apabila dibarengi cinta maka perbuatan manusia menyelamatkan dan dengan demikian perbuatan manusia menyingkirkan jasa Yesus Kristus.[20]



[1] J.L. ch. Abineno, Pemberitaan Firman pada Hari Khusus, BPK-GM, JAKARTA, 1981, hal 137-138
[2] G.C. van Niftrik-B.J.Boland, Dogmatika Masa Kini, BPK-GM, Jakarta, 2001, hal 455
[3] G.C. van Niftrik-B.J.Boland, opcit hal 459
[4] ibid hal 463
[5] Ursinus-Caspar, Katekismus Heidelberg (Pengajaran Agama Kristen), BPK-GM, Jakarta, hal 51

[6] Berkhof-Enklaar, Sejarah Gereja, BPK-GM, Jakarta, 1993, hal.131-132
[7] O. Cullmann, Baptism in The New Testament, SCM Press Ltd., London 1956: hlm. 14.
[8] BibleWorks8
[9] Martin Luther, Katekhismus Besar, BPK-GM, Jakarta 2007: hlm. 184.
[10] Paul Althaus, The Theology of Martin Luther, Fortress Press, Philadelphia 1981: hlm. 353.
[11] Hugh Thomson Kerr, Jr. (ed.), A Compend of Luthers Theology, The Student Christian Movement Press     Ltd, London t.t: hlm.164.
[12] Martin Luther, “The Holy and Blessed Sacrament of Baptism” dalam E.D. Theodore Bachmann (ed), Luther’s Works Volume 35: Word and Sacrament I, Muhlenberg Press, Philadelphia 1960: hlm. 42.
[13]  Ibid., hlm. 32.
[14] Luther, Katekhismus Besar, Op. Cit., hlm. 191.
[15] Johannes Warns, Baptism: Studies in the Original Christian Baptism, The Paternoster Press, London 1962: hlm. 143.
[16] Luther, Op. Cit., hlm.194.
[17] Bachman (ed), Op. Cit., hlm. 33.
[18]  Althaus, Op. Cit., hlm. 356.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar