Total Tayangan Laman

Jesus Jalan Keselamatan

Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku

Lam_Mar Sihaholongan

Marsipature Rohana Be Ma

Rabu, 11 April 2012

Jujur Terhadap Pietisme

Dikutip dari     :

Judul Buku      : Jujur Terhadap Pietisme
Pengarang       : Pdt. Leonard Hale, M.Th
Penerbit           : BPK – Jakarta
Jumlah Hlm     : 127 halaman

BAB I
MUNCULNYA PIASTIME

            Sekitar tahun 1677 di Darmstadt, istilah Pietisme muncul dan menjadi popular di kalangan gereja-gereja Lutheran, dan digunakan sebagai ejekan-ejekan terhadap orang yang hidup saleh (Collegia Pietates), namun kesalehan mereka berlebihan dan dituduh farisi oleh masyarakat.
            Kelompok-kelompok collegia pietatis ini sebenarnya bukan kelompok yang terlalu ekslusif. Kelompok ini pertama sekali didirikan oleh Spener pada tahun 1669, dalam rangka memberi arti dan manfaat kehidupan orang-orang Kristen. Speaner mengatakan “Daripada anggota jemaat dalam seminggu hanya mengahabiskan waktu dengan mabukmabukan dan bermain kartu maka, lebih baik mempergunakan waktu yang membangun.” Misalnya membaca buku-buku tentang kesalehan dan yang kemudian berkembang pada petunjuk-petunjuk praktis, sesuai dengan kekhasan peitisme dihari kemudian.
            Perang yang terjadi selama 30 tahun (1618-1648) yang dilakukan oleh penganut-penganut Katolik Roma dan Reformasi ini berakibat fatal pada nilai-nilai agama. Dalam keadaan seperti inilah pietisme lahir dan berusaha menjawab keadaan. Dan gereja-gereja sebagai alat memerangi akibat-akibat dari  bencana peperangan ini, tidak berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Karena itulah Pia Desideria karya Spaner, berisi kecaman-kecaman yang cukup pedas terhadap pendeta-pendeta dan raja-raja yang salah mempergunakan jabatannya.
            Dikalangan Calvinisme dominan pernah muncul sebagai suatu aliran yang menentang gereja resmi seperti Pietisme di Jerman, dan dikalangan ini disiplin yang keras yang ada pada Pietisme adalah hal yang biasa di praktekkan.
            Dengan melihat uraian diatas , dapat disimpulkan bahwa; “Kelompok-kelompok saleh atau Collegia Pietatis adalah perwujudan usaha untuk memperbaiki keadaan masyarakat dan gereja. Pietisme juga adalah sebuah koreksi atau reaksi, yang berusaha keras mengisi sebuah kekosongan didalam kehidupan Jemaat.
BAB II
LEBIH MENGENAL PIETISME
1.      CIRI-CIRI PIETISME
E.W. Gerdes membuat pembagian untuk perbedaan dan persamaan Pietisme dan Teologi sebagai berikut:

A.    Natura Pietatis
1.      Pergumulan antara manusia lama dan manusia baru itu terus berlangsung, sebab kelahiran baru bukan terjadi sekali untuk selama-lamanya, tetapi kelahiran baru adalah sebuah proses. Atas dasar pertimbangan inilah ditemukan  di dalam Pietisme untuk memutuskan hubungan secara total dengan kehidupan yang lama.
2.      Aliran ini menolak sikap yang setengah-setengah dalam hubungan dengan Tuhan. Itulah sebabnya mereka selalu megkehendaki perubahan total dari yang lama menuju yang baru. Desakan ke arah yang ideal ini merupakan berita utama didalam Pietisme, sehingga kecenderungan ke arah perfeksionisme tidak dapat dihindarkan. Menurut mereka manusia tidak cukup hanya berdasarkan standart moral tertentu karena didorong oleh kasih Allah.

B.     Collegia Pietatis
Kelompok ini adalah sebuah persekuatuan saleh, walaupun unsur individualism sangat dominan dalam Pietisme. Mereka berpendapat bahwa Hakikat kekristenan dapat ditemukan dalam hubungan pribadi antara setiap individu dengan Allah. Menurut mereka, hal-hal kultis menyebabkan formalisme, dan ini  menyebabkan moral dan agama, yang didominasi dalam pietisme adalah unsur individualisme. Dalam pietisme secara umum individu-individu tersebut hidup dalam sebuah jaringan relasi, hal inilah yang dinamakan persekutuan. Dan persektuan itu dinamakan collegium pietatis. Dan Tokoh yang terkenal di dalam collegia pietatis adalah Zinzendorf, dimana ia menganggap bahwa persatuan dengan Kristus merupakan persatuan jasmani.


C.    Praksis pietasis
Orang-orang Pietisme ini berpendapat bahwa  teologi tidak pertama-tama menyangkut tuntunan atau ajaran tentang Allah tetapi pengetahuan tentang bagaimana hidup untuk Allah. Pietisme lebih menekankan hal-hal yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Yang diutamakan oleh aliran ini adalah kebenaran hidup orang-orang Kristen, sehingga mereka lebih menekankan etika dalam kehidupan, baik pribadi maupun hidup dalam bermasyarakat tidak mementingkan kemurnian doktrin.
Tokoh yang dikenal di bidang praksis pietatis adalah William Ames, yang terkenal dengan karyanya Medulla Sacrae Theologiae, yang isinya lebih menekankan kewajiban bersama masyarakat untuk memperbaiki keadaan masyarakat itu sendiri.

D.    Reformation pietatis
Menurut orang-orang Pietisme, reformasi yang dilakukan oleh Luther sebenarnya belum selesai, karena tidak menyangkut dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu reformasi kedua dengan maksudnya adalah perlu ada pembaharuan dalam kehidupan, yang dimulai dari bidang moral.
Sikap optimism timbul berdasarkan janji Allah dalam kitab suci, dan berdasarkan  fakta bahwa adanya pembaruan dalam jemaat mula-mula. Dan karena karena sikap optimis tersebut, seorang penulis, Bengel, menuliskan hal-hal yang dianggap terlalu apokaliptis, bahkan berani menentukan/meramal kapan Kristus akan datang kedua kalinya.

2.      BEBERAPA ALIRAN PIETISME YANG DIKENAL
Dalam perkembangannya ternyata Pietisme mengalami bermacam-macam variasi dan perubahan sebagai berikut;

A.    Pietisme Halle
Aliran Pietisme Halle tidak terlepas dari gagasan Spener (Philipp Jakob Spener), dimana sejak kecil ia hidup dalam lingkungan kesalehan pengaruh Puritan dan Arndtian. John Arndt (1555-1621) sendiri menekankan pertobatan, kesatuan dengan Kristus dan hidup suci dalam pengajarannya. Ardt ternyata berpengaruh terhadap pandangan Spener, seperti Puritan, juga menolak dansa dan minuman keras. Pada tahun 1666, Spener dipanggil untuk menjadi Pendeta di Frankfurt am main, dan pada tahun 1670, ia mulai mengembangkan Collegia Pietis disana. Gagasan-gagasan Spener sangan menentukan arah Pietisme, sehingga dinamakan Bapa Pietisme. Gagasan itu ditemukan didalam karya Spener: “Pia Desideria” yang berisi sebuah program pembaharuan. Dan pembaruan itu berhasil karena telah dijanjikan oleh Tuhan dan tidak tergantung pada kemampuan manusia, Pie Desideria sebenarnya ini terdiri atas 3 pokok penting, yaitu:
1)      Bagian pertama menyangkut kondisi korup didalam gereja. Hal inisehingga seluruh lapisan masyarakat dikecam keras oleh Spener, dan juga mengecam raja-raja yang suka mengendalikan gereja sesuka mereka. Spener juga mengecam para pendeta juga dianggap tidak layak untuk menjadi pelayan Tuhan karena dianggap gagal dalam melakukan pelayanan mereka, khususnya dalam bidang pelayanan yang tidak lahir kembali, dan tidak pantas menjadi pelayan Tuhan.
2)      Bagian kedua melukiskan tentang harapan perbaikan gereja. Karena keaadaan. Lebih dari itu gereja atau jemaat mula-mula telah membuktikan bahwa keadaan gereja yang baik, bukanlah sebuah mimpi yang kosong, tetapi telah terwujud atau menjadi kenyataan dalam jemaat mula-mula. Dan kebutuhan gereja untuk bekerja keras untuk mencapai yang ideal seperti jemaat mula-mula, adalah dasar eskatologi pietisme.
3)      Bagian ketiga adalah usul-usul pembaharuan yang dilakukan Spener, diantaranya:
ü  Penggunaan firman Allah secara ekstensif, sehingga dalam berkhotbah, semua isi Alkitab harus dikhotbahkan. Seluruh bagian ini berguna untuk mengajar, menyatakan yang salah, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang-orang dalam kebenaran (II Tim 3:16)
ü  Imamat Am orang-orang percaya, menekankan pentingnya pokok ini tidak hanya pendeta-pendeta saja tetapi juga semua orang Kristen yang ditunjuk oleh Kristus dan diurapi Roh Kudus.
ü  Pengetahuan iman harus diwujudkan dalam praktek
ü  Sikap yang harus kita lakukan dalam menghadapi orang-orang yang belum percaya atau mengenal Kristus adalah tidak harus dengan cara perdebatan.
ü  Adanya usul untuk pendidikan calon-calon pendeta adalah perlu adanya unsur kesalehan. Didalam sekolah, antara dosen dengan mahasiswa harus saling membangun didalam collegia pietatis.
ü  Alat-alat yang dipakai Allah (Firman dan Sakramen) harus terarah kepada batin manusia. Firman Tuhan tidak hanya didengar, tetapi juga harus diresapi kedalam hati dan terpancar dalam tindakan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu maka mulai ada perbedaan pendapat , sehingga membuat adanya perpecahan diantara mereka. Dan dalam perdebadatannya Spenner dengan ortodoks ada beberapa perbedaan pendapat, yakni:
1.      Doktrin imamat Am orang-orang Percaya
2.      Alkitab dan Roh Kudus
3.      Tatacara atau jalan keselamatan
4.      Penyucian
Tokoh pietisme Halle yang terkenal selain Spener adalah August Hermann Francke, yang meneruskan gagasan Spener dan mempertahankan ajarannya dari penentang-penentangnya. Ada beberapa hal yang ditekankan oleh Fancke, yakni tentang teologi harus melayani perubahan hidup, menyangkut eskatologi, menekankan peranan subyektif manusia.

B.     Pietisme Herrnhut
Tokoh yang terkenal pada pietisme ini adalah Nikolaus Ludwig von Zinzendorf (1700-1760). Pietisme ini awalnya terbentuk dari sekelompok orang-orang Kristen Movarian yang terpaksa melarikan diri dari tanah airnya karena penghambatan. Moravian ini berada dibawah pimpinan Chirstian David, karena merasa tanggung jawab maka, Zizendorff memberikan tempat di Berthelsdroff.
Walaupun Zizendorff dipengaruhi oleh Halle, namun ia mengembangkan Pietisme Herrunt dengan gayanya sendiri, termasuk penguraian pandangan teologi yang tidak diuraikan secara sistematis, dan dia juga menolka pandangan ortodoks tetang pencerahan, dan juga, Konsep tentang Tritinas dalam ajaran Zinzendorf dilukiskan seperti layaknya Bapa, Anak dan Ibu. Bapa berarti pelindung yang memelihara, Anak berarti Allah menjelmakan diriNya di dalam inkarnasi dan disalibkan, dan Ibu berarti Roh Kudus yang mengajar dan mengasuh. Zinzendorf juga menekankan kemenangan Kristus atas dosa dan kematian.
Salah satu kekhasan Zinzendrof adalah bahasa yang erotis. Ia selalu menekankan Kristus sebagai pengantin laki-laki sedangkan gereja sebagai pengantin perempuan. Perbedaan mencolok juga dirasakan dalam ajaran Zinzendorf, dimana ia setuju pada pertobatan dan lahir baru seperti Halle, namun menolak Fankce terhadap penekanan kepada penyesalan yang terlalu mendalam. Menurut Zinzendorf, pengalaman pertobatan adalah suatu sukacita yang membawa jaminan keselamatan.

C.    Pietisme Wurttemberg
Pietisme Württemberg, yang dimulai di Tübingen. Tokoh utamanya adalah Johann Andreas Hochstetter, seorang tokoh ortodoks Württemberg dan juga ahli bahasa. Salah satu tokoh pietisme Württemberg yang terkenal adalah Johann Albrecht Bengel (1687-1725). Bengel juga memiliki pandangan yang sama seperti orang-orang Halle yang lain, ia juga memberikan kritik kepada gereja Lutheran, tetapi ia mementingakan hidup baru, namun tidak membuat jalan khusus ke arah hidup baru itu sendiri.
Bengel memulai menyelidiki Alkitab dan menekankan kritik teks dan merasakan bahwa dan ia juga mempunyai konsep tentang eskatologi yang unik. Kriteik teks dia lakukan bukan berarti merendahkan wibawa Alkitab. Ia beranggapan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah satu kesatuan dan satu keharmonisan yang lengkap. Maksud dari Bengel melakukan kritik teks karena ia bermaksud menolong orang agar dapat mengerti Alkitab lebih baik lagi. Bengel menekankan suatu sistematika Biblika (tafsiran, kritik teks) yang bertujuan untuk memelihara, memperbaiki atau mempertahankan kemurnian naskah Alkitab, menunjukkan kekuatan atau dampak bahasa yang dipergunakan penulis Alkitab.

Tokoh pietisme Württemberg yang lain adalah Friedrich Christoph Oetinger (1702-1782). Menurutnya Gereja adalah Bait Allah bagi tubuhnya, dimana Allah Trinitas tinggal didalamnya. Ia juga menghormati Alkitab sebagai pernyataan Allah yang berwibawa. Oetinger mempunyai ciri khas yang cukup berbeda dengan tokoh pietisme yang lain, yaitu ia menyukai metafisika serta memberikan tempat dan perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan.

D.    Pietisme Radikal
Pietisme Radikal, lebih dominan pada mistik. Salah seorang tokohnya adalah Gottfried Arnold (1666-1714). Ajaran Arnold hanya sebatas mempertajam pandangan yang sudah ada, yaitu pandangan John Arnold dan Jakob Boehme. Menurut Arnold, teologi terbagi atas 2 tipe, yaitu pendekatan Aristotelian yang berpusat pada akal dan hal logis dan juga teologi Mistik yang menekankan pada unsur pengalaman.
Tokoh pietisme radikal lainnya adalah Gerhard Tersteegen (1687-1769). Ia terkenal karena banyak menulis buku-buku rohani dan nyanyian rohani dan  juga seorang yang sangat dipengaruhi oleh hal mistik.

E.     Neo-Pietisme
Neo Pietisme muncul pada akhir abad 17, yang dipengaruhi oleh Christian Wolf (167-1754) ciri-ciri dari ajaran ini adalah  melawan otonomi manusia dan menekankan wibawa Alkitab sebagai otoritas final buat iman dan kehidupan manusia, melawan etik natural an menekankan etik penyataan, melawan reduksi teologi Kristen oleh prinsip-prinsip akal dan menekankan penyataan Alkitab tentang aktivitas Allah yang menyelamatkan, dan juga ia menekankan kebahagiaan tetapi kebahagiaan itu adalah muncul karena melaksanakan kehendak Allah.



3.      BEBERAPA ALIRAN ATAU PANDANGAN YANG MEMPENGARUHI PIETISME

A.    Mistik
      Ada 3 aliran mistik yang sangat mempengaruhi ajaran Pietisme , yaitu:
1.      Mistik abad pertengahan yang dipelopori oleh  Ekhart, Tauler, Thomas a Kempis dll. Menurut mereka kebahagiaan jiwa yang terindah dirasakan bilamana manusia sadar akan kesatuannya dengan Allah.
2.      Mistik di kalangan Protestan yang dipelopori oleh Boehma, ia memberikan dasar dan norma-norma teologi pada waktu itu dan juga membedakan antara agama batin dan formulasi—formulasi intelektual yang sifatnya sekunder.
3.      Mistik di kalangan Katholik Roma abad 17-18, dipelopori oleh Cornelius Jasen, mereka menekankan sebuah kehidupan yang penuh dedikasi terhadap Allah.

B.     Puritan
          Puritan berasal dari kata “pure” yang artinya murni. Aliran ini menganggap dirinya paling murni dibanding gereja yang ada pada waktu itu. Aliran ini timbul di Inggris pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth. Tokohyang memploporinya adalah Thomas Cartwright. Puritan ini menekankan pada peranan Alkitab yang juga menekankan bahwa Alkitab harus dijadikan sebagai dasar utama.

C.    Reformasi
Pietisme sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan Reformasi. Karena banyak tokoh pietisme yang mengatakan bahwa mereka menjadi pengikut Luther. Dan nilai-nilai Reformasi yang ditekankan oleh pietisme, diantaranya imamat am orang percaya dan pembenaran oleh Iman.

D.    Pencerahan
          Pencerahan adalah satu aliran yang menolak keyakinan atau kepercayaan yang diajarkan oleh instansi-instansi lain di luar manusia. Manusia hanya membenarkan apa yang diterima oleh otaknya. Seperti Pietisme aliran ini juga merupakan sebuah reaksi terhadap wibawa badan-badan resmi yang mengatur manusia, antara lain gereja ortodoks.

4.      SALAH PENGERTIAN TENTANG PIETISME
Pietisme adalah salah satu gerakan dalam sejarah yang sulit dipahami. Sejak  abad ke-17 sampai abad ini, selalu muncul kritik-kritik yang salah. Dari urain diatas dapat kita lihat bahwa pietisme muncul sebagai reaksi terhadap ortodoksi. Oleh sebab itu pietisme merupakan satu aliran yang renponsif kontras dengan ortodoksi.

Tulisan-tulisan ortodoksi yang menyerang pietisme antara lain :
a.       Theosophia Herbio Speneriana
b.      Image pietisme
Dalam hal ini pietisme dilukiskan sebagai salah satu sekte yang sangat bahaya. Ada dua tokoh terkenal tentang pietisme, Vahentin Ernst Loscher dari ortodoksi dan Joachim Large dari golongan pietisme. Perdebatan mereka bersifat Apologetis dalam bidang masing-masing. Maka kita ketahui juga bahwa Loscher mempertahankan tentang hal-hal obyektif, sedangkan Large mempertahankan tentang kesadaran individu sendiri.
Ketakutan Loschar atau ortodoksi yang lain ialah individualisme yang menjadi kekhasan pencerahan, akan menadapatkan pintu masuk kedalam gereja lewat individualisme yang ditekankan oleh pietisme, sehingga Loschar menyerang unsur-unsur mistik dan radikal dalam pietisme yang sangat meberikan memungkinkan bagi individualisme. Ketakutan yang lain ialah cenderung untuk menggantikan akal dengan kepuasaan emosional, dan juga terhadap orang-orang pietisme merampas posisi Allah dan mengerjakan keselamatannya sendiri.



BAB III
PENGARUH PIETISME DI INDONESIA

1.      BADAN-BADAN PEKABARAN INJIL YANG BEKERJA DI INDONESIA

Pietisme masuk ke Indonesia melalui badan pekabaran Injil, diantarannya adalah:
a.       NZG (Nederlandsche Zendeling Genootschap)

NZG didirikan di Rotterdam tahun 1897. Badan ini tidak bertujuan untuk membentuk gereja dalam perkabaran Injil. NZG berasal dari bermacam-macam denominasi, sehingga NZG tidak mementingkan gerejanya sendiri. Badan ini menekankan penanaman agama Kristen yang benar dan akktif dalam hati manusia. Tujuan mereka adalah untuk mengkabarkan Injil kepada orang kafir. Badan ini berpengaruh di berbagai daerah yang ada di Indonesia.

b.      Pekabar-pekabar injil Tukang
Pekabar-pekabar Injil Tukang yang terkenal adalah Gossner dari Jerman dan Heldring dari Belanda. Selama 10 tahun berhasil mengirim kurang lebih 52 orang-orang pekabar injil yang tersebar di Jawa, Irian Barat, Sangir dan Talaud. Mereka bergerak di bidang pelayanan sosial yang berpusat di Eropa. Gossner adalah seorang yang saleh dan Kristus menjadi pusat kehidupannya.

c.       NZV (Nederlandsche Zendingsvereeninging)
Badan ini bekerja di Jawa Barat, warna teologi badan ini bertentangan dengan teologi modern dan NZV lahir pada tahun 1858.  Dan bagi mereka yang menjadi anggota NZV adalah mereka yang mengaku Yesus Kristus sebagai Juruselamat mereka, menyatakan bahwa tidak akan bekerjasama dengan orang-orang yang menyagkal keillahian Kristus.

d.      UZV (Untresche Zendingsvereeninging)
UZV dibentuk oleh orang yang tidak setuju dengan golongan modern dan mereka sebenarnya berasal dari golongan etis. Mereka lebih dekat dengan golongan ortodoks, tetapi lebih sedikit fleksibel. Badan ini menekankan bahwa kebenaran harus dinyatakan dalam seluruh perbuatan dan kepribadian.
e.       Badan-badan Pekabaran Injil yang memakai nama Gereformeerd
Badan ini mau menunjjukkan bahwa mereka tetap berbegang pada ajaran calvin abad ke-16 dan 17. Badan ini terdiri dari 2 bagian yakni:
1.      (NGZV) Nederlandsche Gereformeerde Zendingsvereeniging  
NGZV didirikan pada tanggal 6 Mei 1859 merupakan badan yang memisahkan dari NZG karena tidak setuju dengan unsur-unsur modern yang menyusup dalam tubuh NZG. Anggotanya terdiri dari orang-orang Hervormd yang pietis. Daerah yang  mereka injili adalah Jawa Tengah dan Sumba.

2.      (GZB) Gereformeerde Zendingsvereeniging
GZB bekerja di daerah Toraja. Badan ini meskipun berwarna pietis yang berasal dari ajaran Calvinis abad 16 dan 17, tetapi tidak termasuk ke dalam Zending Gereja-gereja Gereformeerd.

f.       Badan-badan Pekabaran Injil lain
a.      (BMG)Bassler Mission Gesselschaft  
BMG bersifat antar-denominasi. Didalam badan ini ada unsur Lutheran dan Calvinis. Badan ini bekerja di daerah Kalimantan Selatan.

b.      (RMG) Rheinische Missiongesselschaft  
RMG juga bersifat antar-gereja. Sama seperti Bassler Mission Gesselschaft, badan ini merupakan badan pekabaran Injil yang berasal dari Jerman dan bekerja dalam lingkungan Uniert (gabungan antara Lutheran dan Reformiert).

2.      BEBERAPA TOKOH PEKABARAN INJIL YANG PERNAH BERKARYA DI INDONESIA
A.    Joseph Kam
Joseph Kam dipengaruhi oleh aliran Herrnhut. Ada tiga hal yang dipelajari Herrnhut, yaitu cinta kasih persaudaraan, penyebaran berita tentang perdamaian melalui darah Kristus dan pemberitaan diantara bangsa kafir. Yang kemudian ia menjadi pekabar Injil bagi orang-orang kafir. Dalam hidupnya Kam memperhatikan pertumbuhan dan disiplin gereja serta berperan di bidang pendidikan dan kesehatan khususnya di daerah Maluku.
B.     Johann Friedrich Riedel
Johann Friedrich Riedel. Meskipun ia berasal dari kalangan Lutheran Ortodoks, tetapi ia banyak dipengaruhi oleh pietisme dan mewarisi ajaran Zinzendorf. Riedel sendiri lebih banyak memberikan pengaruhnya di daerah Minahasa, Tondano.
C.    Ingwer Ludwing Nomensen
Ingwer Ludwig Nommensen adalah Tokoh pietisme yang memberikan pengaruh besar di daerah Batak. Dalam usahanya untuk mengabarkan Injil di daerah Batak, Nommensen mau mempelajari bahasa Batak, serta mendukung adat yang baik dan menolak adat yang tidak baik.
Nommensen mengembangkan pekerjaannya dengan mendirikan perkampungan Kristen, yaitu Huta Dame. Pelayanan yang dilakukan oleh Nommensen sangat bervariatif, selain bidang pendidikan dan kesehatan, ia juga terlibat dengan masalah politik dan keamanan masyarakat.Jelas bahwa Nommensen sangat dipengaruhi oleh ajaran pietisme dan pengaruh itu diterapkan di tanah Batak. Ia juga sangat terbuka terhadap kebudayaan pribumi, dan dalam pekabaran Injil ia menggunakan adat istiadat setempat. Dan harus diakui bahwa Nommensen memberi pengaruh yang sangat besar di tanah Batak, sampai-sampai ia disebut sebagai “Rasul Batak”.
D.    Albertus Christiaan Kruyt
Albertus Christiaan Kruyt mempunyai pengetahuan yang sangat baik tentang agama dan kebudayaan Poso. Sehingga ia diterima dengan baik di daerah Poso dalam hal pekabaran Injil. Kruyt lebih banyak bergerak di bidang pendidikan dan medis. Kruyt mempunyai pandangan luas, ia tidak menganggap sebuah kebudayaan sebagai suatu hal yang negative, dimana hal ini sungguh berbeda dengan ajaran yang dianut oleh pietisme.





3.      PENGARUH PIETISME DALAM PENGHAYATAN IMAN ORANG-ORANG INDONESIA
Di Indonesia sebagai ladang pekabaran Injil, digarap oleh beberapa badan pekabaran Injil. Untuk itu disoroti pengaruh-pengaruh dan warisan Pietisme yang mampu menembus beberapa abad, walaupun masih membekas dalam jemaat-jemaat di Indonesia.
a.      Pengertian Jemaat Tentang Gereja
Anggota-anggota jemaat lebih betah dalam persekutuan doa, dibandingkan dengan di dalam gereja, dan ada beberapa kata-kata yang mengecilkan arti gerejadan menjadi sangat popular. Arti dan hakikat gereja semakin popular, bahkan seringkali untuk membenarkan diri, dipergunakan istilah oikumene.
b.      Ibadah dan Tata Ibadah Jemaat
Gereja-gereja masih  banyak terpengaruh oleh ajaran pietisme. Jemaat lebih menyukai lagu-lagu yang bersemangat dibandingkan lagu kidung pujian Ibadah dalam gereja, masih banyak yang dipengaruhi oleh pietisme seperti warisan lagu-lagu dalam pietisme. Pietisme abad ke-18 mereka mengenal ibadah (liturgi), dalam liturgi itu pujian-pujian atau nyanyian yang mendapat tempat penting pada zaman Zenzendorf.
c.       Pemberitaan Firman
Dasar pemberitaan Firman adalah Alkitab, bukan pengalaman manusia. Orang-orang yang telah dipengaruhi oleh pietisme lebih mementingkan pengalaman mereka dibanding Alkitab. Karena pusat pengalaman pemberitaan Firman Tuhan yang sesunggunya adalah Kristus.
d.      Pandangan Jemaat Tentang Sorga, Dunia, Tubuh, dan Jiwa
Perbedaan yang tajam antara surga, dunia, tubuh, dan jiwa yaitu merupakan pandangan yang umum ditengah-tengah jemaat. Surga jauh lebih penting dari pada tubuh anggota jemaat juga beranggapan dunia ini suatu lembah air mata yang hanya sementara. Konsekwensi dari pandangan diatas ialah muncul pandangan diman pendeta lebih mulia. Pengaruh Pietisme juga kelihatan dalam perbedaan yang tajam antara jiwa dan tubuh. Keselamatan yang kekal adalah keselamatan yang menyangkut jiwa saja.
e.       Peranan Manusia dan Anugrah Allah
Semboyan Reformasi Sola Gratia cukup populer dan dikenal didalam jemaat. Namun praktis peranan manusia selalu ditekankan . itulah sebabnya kesempatan untuk moralisme semakin terbuka. Hidup sesuai dengan hokum Tuhan adalah usaha untuk manusia mencapai surga.
f.       Pandangan Jemaat Tentang Yesus
Yesus adalah pusat kehidupan orang-orang Kristen. Peranan Yesus yang paling ditekankan ialah: Yesus sebagai penebus dosa, juruselamat dunia. Sedangkan Yesus sebagai aja yang menang atas maut, sebagai Tuhan Yang Bangkit jarang ditekankan.
g.      Pandangan Jemaat Tentang Diakonia dan Pendidikan
Pandangan jemaat tentang diakonia yaitu suatu tambahan yang penting pada pelayanan Firman secara Verbal dan juga dalam pendidikan. Dimana diakonia adalah umpan untuk menangkap orang bagi Kristen. Ada juga dengan kata lain adalah alat pekabaran Injil, atau pekerjaan badan-badan atau yayasan-yayasan sosial.
4.      PIETISME DALAM ALIRAN EVANGELIKAL (FAITH MISSION)
A.    Gerakan KKR Pertama di Amerika
Akhir abad ke-17 dan permulaan abad ke-18, Amerika merasa cemas dan resah dan keadaan yang tidak menentu. Pada tanggal 27 Oktober 1727, terjadi sebuah gempa bumi yang dahsyat menimpa Amerika Timur laut sebelum daerah itu dilanda oleh wadah cacar semua 6 tahun orang-orang Amerika melihat gejala itu karena atas kuasa Tuhan. Gerakan kebangunan rohani yang pertama di Amerika oleh Jonathan Edward pada bulan Desember 1734. Dimana dia memproklamasikan tentang kebenaran iman secara teologis.



B.     Gerakan KKR kedua di Amerika
Gerakan kebangunan rohani yang kedua ini terjadi disebelah Barat dan sebelah Timur yang unik oleh kelompok-kelompok mahasiswa. Dimana salah satu ciri yang terkenal dari gerakan kebangunan rohani yang kedua ini adalah gerakan ini giat dalam aksi-aksi sosial yaitu dalam rangka menentang perbudakan di Amerika. Tokoh terkenal dalam kebangunan rohani ini ialah C.G .Finney.

C.    Gerakan KKR ketiga di Amerika
L. Moody adalah seorang awam yang berperan utama dalam Gerakan Kebangunan Rohani yang ketiga. Gerakan ini bersifat antar-denominasi.. Karena terorganisir dengan baik dalam hal pekabaran Injil, maka John Wilbur Champman mampu membuat orang bertobat sebanyak 600.000 orang dalam waktu 9 bulan.

D.    Kerakan KKR keempat di Amerika
Gerakan ini terjadi sesudah perang dunia ke II. Paelopornya adalah DR Billy Grahan yang berbicara tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya yang secara hebat. Perlu kita perhatikan juga bahwa di Amerika ternyata golongan Evangelikal ini didukung oleh pengusaha-pengusaha besar dan orang-orang yang mempunyai kedudukan.

5.      BEBERAPA PENILAIAN NEGATIF YANG BIASA TERHADAP PIETISME

ü  Pietisme adalah aliran yang menjauhkan diri dari dunia
ü  Pietisme adalah aliran yang indvidualisme
ü  Pietisme adalah aliran yang separatisme
ü  Pietisme aliran yang obyektif



BAB IV
TANGGAPAN DAN KESIMPULAN

A.    Tanggapan
Menurut pendapat saya, ajaran pietisme (atau gerakan kesalehan) adalah ajaran yang baik. Pada saat pertama kali muncul, Gerakan ini bermula sebagai reaksi terhadap ritual-ritual yang mekanis dan formal yang mewarnai pelayanan di gereja Lutheran yang saat itu telah mapan, namun semakin kurang kebebasan untuk mengungkapkan iman secara lebih spontan.

            Orang-orang-orang-orang Pietis sedih melihat kebanyakan anggota jemaat hidup untuk dunia ini saja, agama dipandang sebagai perkara biasa yang memang masih diindahkan tetapi tinggal perkara lahiriah saja yang tidak menggerakkan hati lagi dan kurang dipraktekkan dalam hidup kaum Kristen sehari-hari. Pietisme berusaha untuk memberantas semangat yang suam itu dan membina kembali kehidupan rohani jemaat.

Dampak Pietisme
A. Dampak Positif
1. Giat ber PI dalam rangka harapan kedatangan kerajaan Allah.
2. Pusat hidup adalah firman Tuhan.
3. Setia kepada Gereja
4. Pola kesalehan sangat ditanamkan dalam kehidupan kelompok-kelompok Kristen khususnya pada diri sendiri.

B. Dampak Negatif
1. manusia yang saleh itu menjadi pusat hidup rohani.
2. Menimbulkan rasa semangat fanatik dan sekte-sekte kecil.
3. Menimbulkan perpisahan-perpisahan jemaat yang berbeda aliran.
4. menimbulkan pertikaian.

            Jadi walaupun kita melihat bahwa ada beberapa pandangan yang tidak sesuai dengan apa yang firman Tuhan katakan, namun semangat yang ada didalam Pietisme ini menjadi sesuatu hal yang baik yang patut dicontoh oleh orang-orang Kristen zaman sekarang, sehingga kita tidak hanya berkata kita orang-orang beriman dan sudah diselamatkan oleh Tuhan didalam Yesus Kristus namun tidak ada buah yang bisa kita tunjjukkan untuk membuktikan kita adalah orang-orang yang dipilih dan diselamatkan oleh Tuhan.
            Dan biarlah dengan keadaan/kehadiran Pietisme yang menelanjangi kekurangan-kurangan didalam kekristenan ini

B.  Kesimpulan

            Aliran pietisme ini menekankan tentang kesalehan hidup manusia dengan pemahaman  bahwa cara ini akan lebih dekat lagi dengan Tuhan, dan bila semakin dekat dengan Tuhan maka anugerah Tuhan akan lebih banyak lagi. Dan orang Kristen sepantasnya menjadi pelaku firman, bukan pendengar firman.





»»  baca selengkapnya...